Berdoa dengan Jujur

 

“Dalam berdoa, sikap dan orientasi hati adalah yang paling penting, bukan kata-kata indah atau simbol-simbol religius. Rangkaian kata indah seperti puisi ataupun prosa mungkin membantu kita dalam berdoa, bahkan kita juga masih menemukan simbol religius di dalam gereja termasuk tanda salib yang kita buat saat akan berdoa. Akan tetapi yang terpenting adalah kesadaran kita untuk mau berelasi dengan Tuhan.”

 

Tuhan ingin bersahabat dengan kita. Persahabatan adalah sikap saling mendengarkan antar dua pribadi. Kemauan dan kesadaran untuk berelasi dengan Tuhan jauh lebih penting. Ia ingin kita mendengarkan dan membuka pintu hati bagi-Nya.

Seorang Romo Yesuit, Willam Barry, SJ pernah menulis buku “Berdoa Dengan Jujur”, buku yang sangat baik untuk menggambarkan makna doa sebagai sebuah relasi. Ia pernah mengatakan, “kebanyakan orang merasa bahwa Tuhan ingin menyuruh mereka melakukan sesuatu dan melayani-Nya. Padahal, Tuhan hanya ingin kamu bersahabat denganNya.” Persahabatan ini membutuhkan kesadaran batin dan kemauan untuk berelasi, sehingga dibutuhkan keterbukaan hati.

 

Jangan Ada Rahasia

Dengan demikian, kita sendiri tidak hanya sebatas mau tetapi juga harus mampu mendoakan segala yang dirasakan dalam hati, apa pun itu. Perasaan tersebut dapat berupa ketertarikan, ketakutan, keberhasilan, kesedihan, kepicikan, kecemburuan, kekecewaan, kemarahan, seksualitas, dosa-dosa, rasa syukur, bahkan ketidaksetujuan dengan Tuhan. Dengan mengungkap semua ini, kita membuka pintu hati dan mempersilakan Tuhan masuk lewat doa. Doa menjadi sebuah kesempatan ngobrol bareng sohib, berbagi pikiran dan perasaan, meminta dan menerima pengampunan serta nasihat. Inilah saat di mana dua orang saling sadar akan kehadiran satu sama lain.

Mungkin tidak mudah bagi kita untuk hadir secara jujur di hadapan Tuhan. Beberapa orang mungkin keberatan apabila harus menyampaikan pengalaman seksualitas, dosa-dosa, dan ketidaksetujuannya terhadap Tuhan. Memang tidak mudah, namun percayalah bahwa relasi yang jujur di hadapan Tuhan membuat kita semakin dekat dengan-Nya. Layaknya seorang sahabat yang tidak lagi menyimpan rahasia apapun.

Katakanlah pada Tuhan sekonkret mungkin tentang apa yang terjadi pada pikiran, hati, dan tubuh kita. Jika merasa risih dan tak nyaman, tunggulah! Mungkin kita tidak akan mendengarkan kata-kata, melainkan kita akan merasakan sesuatu. Ingatlah bahwa Tuhan menciptakan kita sebagai makhluk dengan seluruh kecenderungan kita yang sangat manusiawi.

Keengganan mengakui dosa kita kepada Tuhan dapat menjadi penghalang relasi persahabatan dengan Tuhan. Mungkin kita berpendapat bahwa menerima sakramen pengakuan dosa saja cukup, tetapi Tuhan sungguh ingin mengenal kita secara personal dan ingin bersahabat semakin dalam dengan kita. Tuhan ingin kita secara sadar menyebutkan dosa itu padaNya dan bukan sebatas menyebutkannya sebagai sebuah daftar layaknya di hadapan bapa pengakuan. Sebuah ungkapan kejujuran dari hati terdalam dibutuhkan dalam persahabatan. Semakin dalam suatu persahabatan, semakin banyak kekurangan-kekurangan pada karakter kedua belah pihak yang terungkap.

Kita juga boleh tidak setuju dan berkonfrontasi dengan Tuhan. Jika kita merasa kecewa oleh-Nya, kita boleh mengungkapkan bahwa yang kita alami karena kesalahan Tuhan. Ungkapan perasaan itu sangat baik untuk kesehatan relasi kita dengan Tuhan. Tuhan juga pasti mendengarkan keluh-kesah kita dengan sabar. Hal itu semata-mata demi relasi yang lebih jujur. Dengan cara inilah kita akan semakin sadar bahwa sesungguhnya Tuhan sama sekali tidak pernah berkehendak mengecewakan kita, hanya kita saja yang belum sungguh memahami kehendak-Nya.

 

Berdoa dan Mendengarkan

Kesulitan yang sering kita hadapi adalah mendengarkan kehendak Tuhan. Sebelum belajar mendengar Tuhan, kita perlu belajar untuk mendengarkan sesama. Menjadi pendengar yang baik bagi sesama dan Tuhan adalah dengan membiarkan diri berada pada saat ini – di sini dan tidak cemas akan hal yang lampau ataupun yang akan datang. Dengan demikian, kita akan sangat menikmati dan fokus dengan persahabatan tersebut. Bahkan, dengan mudahnya kita bisa mengingat apa yang telah Tuhan nyatakan. Doa dapat menjadi suatu rutinitas yang sangat menyenangkan. Doa membuat kita seperti sedang tenggelam dalam novel atau bacaan favorit kita. Kita menikmatinya, seperti tidak ingin lepas, dan sangat bersemangat untuk membagikan cerita itu pada orang lain.

Ada banyak cara berdoa yang bisa dilakukan. Bisa dengan menulis (seperti halnya journaling), bermeditasi/kontemplasi, menikmati suara alam, atau bahkan menikmati alunan musik. Dari semua cara ini, yang paling penting adalah secara sadar aku mau berelasi dengan Tuhan. Aku mau membuka pintu hatiku dan mempersilakan Dia yang sudah menunggu lama untuk ngobrol berdua sebagai sahabat.

 

 

Barry, William A. Berdoa dengan Jujur. Penerjemah oleh A. Sumarwan, dkk. Yogyakarta: Kanisius. 2018.

Heuken, Adolf. Tuhan Ingin Berbicara Kepadamu, Doa sebagai hubungan dengan Tuhan yang kita sadari. Jakarta: Cipta Loka Caraka. 2000. Terjemahan dari William A. Barry, SJ. God and You, Prayer as a Personal Relationship. NewYork: Pulist Press. 1987.

Tjaya, Thomas Hidya. Peziarahan Hati. Yogyakarta: Kanisius. 2011.


Fr. Josephus Bayu Aji, SJ

Jika mencari pekerja di ladang Tuhan, Bayu adalah salah satunya. Mahasiswa yang kesehariannya menggulati filsafat di STF Driyakara ini senang merenung juga soal Tuhan dan karya kasihNya bagi dirinya dan orang lain. Apalagi ditemani buku bacaan rohani dan secangkir kopi di senja hari.


Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *