Mengurai Rumpun-Rumpun Bambuku

SALAH SATU MANTRAKU

Suatu kali teman kerjaku berkata, “Mulai gila nih! Sudah bosen di rumah terus, berantem mulu sama suami”. Kalimat yang cukup blak-blakan ini sebetulnya tidak mengherankan bagiku, sebab aku juga mengalaminya. Bukan berantem dengan istri ya. Lebih kepada bosen di rumah. Kamu begitu juga kan? Kalau tidak, jadi heran aku. Hidup dengan pembatas berupa dinding atau pagar membuat keseharian kita yang biasanya terus bergerak terasa kurang sempurna. Seperti ada yang hilang. Namun sebetulnya hanya berubah untuk sementara. Karena lebih banyak menghabiskan waktu sadar di luar rumah, kita jadi merasa asing berada di rumah. Menghabiskan waktu sadar kita di dalamnya. Apa yang semestinya dilakukan setelah selesai bekerja dari rumah? Sepertinya tidak ada. Mungkin karena kita sebetulnya selama ini tidak benar-benar hidup di rumah.

Lain lagi dengan seorang teman yang bercerita bahwa hari-hari ini banyak yang dikerjakan. Mencoba membuat berbagai masakan yang ada di youtube, menanam sayur-mayur, bahkan memelihara ayam kampung. Ya bisa dimengerti karena dia punya halaman. Selain tetap bisa bekerja dia juga dapat menyalurkan energinya untuk kegiatan yang menyenangkan. Nampaknya hidup teman ini tidak bermasalah di tengah masa karantina diri. Ketika sedang berkisah dia sangat aktif, seperti hidupnya lebih menyala. “Gue happy-happy aja”, katanya. Dan energi positifnya mempengaruhi tiga orang lain yang mendengarnya. Mengisi pembicaraan dalam lingkaran pertemanan itu. Menginspirasi untuk berbuat yang sama sebab (aku, kamu, dan) kita semua membutuhkannya saat ini. Tetap merasa hidup meski hanya di rumah.

Yang tinggal di kos-kosan sebetulnya juga sama. Meski mungkin hanya sendiri dan ruang geraknya lebih sempit bukan berarti tidak ada sama sekali hal yang bisa dilakukan. Selain tetap bekerja dengan cara yang baru kamu juga bisa melakukan hal-hal yang selama ini belum sempat dilakukan. Misalnya saja membaca buku-buku yang tertunda, melukis, memainkan musik, merajut, dan banyak yang lain. Aku rasa kamu bisa menemukan contoh lain yang sesuai denganmu. Bagaimana cara menemukannya? Umm, aku punya satu mantra untukmu dari seorang guruku. “Energi Mengikuti Imajinasi”. Gunakanlah mantra itu untuk menjalani keseharianmu. Berimajinasilah yang positif sehingga menghasilkan energi hidup yang positif. Gambaran-gambaran baik yang ada dalam dirimulah yang mampu mendorong munculnya perbuatan baik. Tindakan-tindakan yang positif. Kegiatan-kegiatan yang menggembirakan. Menjadikan badan yang minim gerakan menjadi tetap hidup. Bahkan setara dengan waktu kita terus aktif bergerak.

Energi positif yang telah menjalar di tubuh kita baik untuk dijaga untuk terus ada. Ya kan kita tidak tahu sampai kapan musti terus berdiam diri. Selain juga karena memelihara benih baik itu baik! Cara sederhana yang bisa kamu lakukan adalah dengan berhubungan dengan manusia lain. Aduh kalimatnya, maksudku menjalin hubungan dengan orang lain. Baru-baru ini aku berkontak dengan teman-teman lama. Ada yang kenal lama dan ada yang lama tak jumpa. Mengingat cerita lama dan saling berbagi kabar menciptakan ruang resonansi bagi energi positif yang telah kita pelihara. Getarannya mempengaruhi satu sama lain dan energinya terus hidup diantara jarak persahabatan. Imajinasi positif dan energinya tumbuh serta berbuah.

 

PRIBADI YANG BERSEGI-SEGI

Pekerjaanku yang mengharuskan berhubungan dengan banyak anak dan orang tuanya membuatku melihat fenomena unik belakangan ini. Anak sekolah saat ini belajar di rumah. Sering disebut Pelajaran Jarak Jauh atau PJJ. Aturannya sih beda-beda tergantung sekolahnya. Mungkin kamu mengalami atau tahu perbedaannya. Secara umum anak sekolah tetap belajar seperti biasa hanya pengajaran dan bahannya diberikan dari ruangan yang berbeda. Nah hal-hal menarik muncul di sini. Karena ruangannya berbeda sering anak tidak mandi dan langsung ikut pelajaran. Ada yang sembari melakukan kegiatan lain semisal main game. Sebagian menjadi ogah-ogahan dalam belajar. Bahkan ada yang karena begadang jadi tidur dan tidak ikut pelajaran. Barangkali anak itu merasa seolah sedang libur. Melihat kelakuan anaknya yang semacam itu orang tua marah. Dari sudut pandang anak-anak, orang tua suka ngomel-ngomel di rumah. Tidak asik dan santuy. Anak yang merasa seperti sedang libur jadi tidak betah di rumah. Sebaliknya para orang tua juga stres menghadapi anak mereka yang (ternyata) bandel. Konflik yang muncul ketika masa karantina diri ini cukup mengagetkan banyak keluarga.

Ini merupakan satu bagian dari konflik-konflik yang muncul di rumah-rumah kita. Balada prahara yang mendadak ada dalam keluarga-keluarga. Mungkin saja terjadi karena kita tidak pernah benar-benar menghabiskan waktu bersama keluarga dalam waktu yang lama. Aku pikir kamu juga melihatnya, merasakannya atau bahkan mengalaminya. Iya memang. Kadang konfliknya terlihat, kadang hanya ada dalam perasaan. Akan lebih baik bila konflik yang masih dalam perasaan itu kamu sadari. Merasa-rasakan dengan betul gejolak batin yang terjadi di hatimu. Menyadari kecenderungan-kecenderungan yang kamu miliki dan ke arah mana kecenderunganmu itu ditarik. Siapakah yang menarik dan memanfaatkannya. Sebelum itu menggerakkanmu untuk melakukan tindakan yang tak kamu pahami sebab-musababnya; yang bisa jadi sangat fatal.

Kita butuh menyadari, kita itu orang yang seperti apa. Bagaimana bentukan pribadi kita. Juga sulur-sulur yang tumbuh dalam diri kita. Eee, gimana ya bilangnya? Kamu tahu pohon bambu kan? Pohon bambu itukan bersulur-sulur sampai menjulang tinggi ke atas, juga melengkung ke samping. Terlihat tidak beraturan. Diri kita itu layaknya rumpun bambu yang bersulur-sulur yang kalau sekadar di lihat, sulit rasanya untuk tahu ujung yang ini pangkalnya dimana. Paling sulur-sulur yang di luar yang nampak ujung pangkalnya. Yang di dalam-dalam perlu usaha untuk masuk ke tengah rumpun bambunya. Seperti menggali ke dasar sejarah hidup, kita lalu merunut dimana ujung-ujungnya saat ini. Dan itu tidak mudah. Namun tidak mustahil. Butuh usaha terus menerus.

Terlalu mengawang-awang ya? Oke. Kalau kamu juga merasa terlalu jauh untuk merunut dari dan sampai pengalaman sejarah hidup, kamu bisa menggunakan pengalaman pamplona-mu sebagai acuan. Aku punya contoh yang barangkali kamu sudah bisa menebaknya. Ya, kamu ingat pengalaman pamplona Inigo kan? Bagaimana keadaannya setelah itu? Persis! Setelah kakinya patah dan terluka parah Inigo dibawa ke Loyola untuk dirawat. Mungkin seperti saat-saat yang kita alami sekarang, ia juga merasa bosan dan kesepian. Inigo juga bosan di rumah saja, terlebih karena kakinya itu dia belum bisa kemana-mana. Gejolak dalam hatinya pun muncul dengan kecenderungan untuk menjalani hidup yang heroik. Hidup heroik sebagai seorang ksatria yang mengabdi raja. Itu sebabnya dia sangat ingin membaca kisah-kisah ksatria kegemarannya. Itu pula yang membuatnya rela melakukan operasi pada kakinya yang menyakitkan. Namun kekosongan dan kecenderungannya juga ditarik dari sisi yang lain. Ketika yang bisa diaksesnya terbatas pada buku kisah hidup Yesus dan para kudus, ia ditarik untuk menapaki jalan hidup di tanah suci. Seperti hidup Yesus dan para kudus. Hidup heroik sebagai ksatria yang mengabdi Raja Semesta.

Untuk membicarakan bagaimana bentukan pribadi kita, aku mengutip tulisan Romo Carlos G. Valles, SJ supaya ada gambaran bagimu.

Karena kepribadian kita sangat bervariasi dan kompleks, kita membutuhkan manusia-manusia yang berbeda dalam kehidupan kita untuk menanggapi aspek yang berbeda-beda dari watak kita. Seorang teman mungkin “enak” diajak untuk mendiskusikan gagasan, yang lain lebih menyenangkan sebagai teman dalam pertandingan, namun tidak memberikan tanggapan yang kita inginkan dalam hal pertukaran intelektual, dan lain sebagainya. Persahabatan yang satu mungkin lebih pengasih, yang lain lebih menghibur, dan yang lain lagi lebih mengutamakan kecerdasan. […] Bagi orang lain, kita terdiri dari banyak segi, semakin banyak segi yang dapat terlihat dan diterima oleh seseorang, semakin dekat pula hubungan kita kepadanya. (Carlos G. Valles, I Love You, I Hate You: Sisi Ganda Relasi Interpersonal, hlm. 54.)

Membaca kutipan Romo Carlos ini cukup menjelaskan bagaimana bentuk kepribadian kita yang telah dibuat sejak bertahun-tahun lalu, kini berbenturan dengan kenyataan dahaga emosional. Sebagai manusia kita sedang haus akan sentuhan pribadi-pribadi lain pada banyak segi yang kita miliki. Jumlah anggota keluarga yang terbatas itu tidak cukup untuk segi-segi yang kita punyai. Peran keluarga kita di rumah berbeda dengan teman-teman kita. Orang-orang yang dalam keadaan sebelum sekarang ini ada di sekeliling kita, saling melengkapi untuk kebutuhan emosional kita yang banyak itu. Karena semua pribadi yang ada di rumah tidak cukup untuk memenuhinya timbullah kekosongan pada segi-segi yang lain. Kekosongan ini yang memicu kita untuk coba mengisinya. Tindakan dan usaha ini secara naluriah berasal dari kecenderungan-kecenderungan kita. Kecenderungan-kecenderungan yang muncul itu, sangat erat dengan sejarah kita masing-masing.

Saat-saat ini kita memiliki cukup ruang –dan mungkin waktu– untuk bertemu dengan diri kita sendiri secara intim. Mengidentifikasi setiap segi yang kita miliki, seberapa banyak, dan bagaimana persisnya masing-masing. Mengurai rumpun bambu dalam diri kita kemudian merunut sulur-sulurnya. Pergunakanlah mantra-mantramu! Merunut tiap-tiap sulur dan menyentuh masing-masing segi dengan energi positif. Guna membuat hidup kita lebih berharga dan berkualitas. Suatu kesempatan yang baik untuk kita manfaatkan. Dan yang perlu kita lakukan adalah memulainya lalu meneruskan. Kamu butuh memulainya. Kamu perlu meneruskannya. Iya kamu!

 


Cornelius Bayu Astana

Seorang pecinta hidup dan suka terhanyut dalam pikirannya sendiri. Ia pernah menuliskan, “aku adalah domba yang hilang, selamatkanlah aku” sebagai jawaban alasan mengikuti Magis dalam form pendaftaran. Sering terkejut ketika diajak bicara bahasa jawa oleh ibu-ibu pedagang pasar di Jakarta, padahal ia belum bicara sama sekali. Saat ini sedang penasaran dengan dirinya akan seperti apa ketika usia 40.

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *