Resensi Film: “Milly & Mamet” (2018)

Bagi Anda yang pernah menonton film Ada Apa Dengan Cinta? (2002) pasti familiar dengan tokoh utamanya yang bernama Cinta, seorang remaja SMA serta 4 sahabat karibnya; Alya, Carmen, Maura, dan Milly, kan? Dalam AADC 1, karakter dari setiap anggota “Geng Cinta” ini tampak khas, sehingga bukan cuma Cinta saja yang diingat. Salah satu dari empat sahabat itu adalah Milly. Kita tentu mengenalnya sebagai anggota geng yang lemot. Selain Rangga–tokoh utama pria yang juga menjadi fokus utama dari film tersebut—pasti ingat dong dengan sosok Mamet; cowok culun, polos, dan sering berbaik hati khususnya kepada Cinta, karena Mamet memang menaruh hati padanya.

Ratusan purnama ☺ setelah kesuksesan film AADC 1, muncullah Ada Apa Dengan Cinta? #2 (2016) yang kembali menghadirkan Cinta, Rangga, dkk versi dewasa tetap dengan karakter “bawaan” masing-masing seperti saat mereka remaja. Dalam film ini, penonton disuguhi “kenyataan” bahwa pada akhirnya di kehidupan dewasa mereka, Mamet sukses move on dari Cinta dan malah membangun rumah tangga bersama Milly! Dengan karakter “bawaan”-nya, Mamet serta Milly yang menjadi pasutri itu sukses menghadirkan unsur komedi yang segar bagi AADC 2. Rupanya, konsep tersebut berhasil ditangkap dengan tepat oleh Ernest Prakarsa, sutradara dengan latar belakang seorang standup comedian, untuk membuat film tentang kehidupan rumah tangga Si Lemot dan Si Culun itu. Penghujung tahun 2018 sepertinya menjadi saksi akan keberanian Film “Milly & Mamet” sebagai film Indonesia yang dirilis di tengah arus film asal luar negeri yang juga sedang hangat-hangatnya tayang di bioskop nusantara. Bahkan, setelah tayang 10 hari, “Milly & Mamet” berhasil menembus 1 juta penonton.

“Milly & Mamet” berkisah tentang kehidupan Milly dan Mamet bertahun-tahun kemudian pasca lulus SMA. Cerita tentang bagaimana mereka bisa bertemu kembali hingga ‘terbersit’ rasa jatuh cinta hingga menikah dan membangun rumah tangga bersama dihadirkan dalam scene pembuka yang padat namun tidak terburu-buru. Dengan begitu, kisahnya masih cukup jelas dan enak dinikmati, gak berasa maksa.

Permasalahan hadir dengan latar belakang kondisi Mamet yang kini bekerja sebagai kepala pabrik konveksi milik Ayah Milly. Bersamaan dengan hal itu, Milly yang juga merupakan seorang ibu baru, dan sedang mengalami masa jenuh sebagai ibu rumah tangga biasa. Padahal, sebelumnya Milly bekerja sebagai banker yang sukses. Tidak hanya itu, Mamet juga jenuh untuk ‘membohongi diri’ karena tidak melanjutkan mimpi awalnya untuk menjadi chef yang bisa punya restoran sendiri, hingga kemudian ia memutuskan hengkang dari perusahaan mertuanya itu dan merintis usaha restoran bersama Alexandra—seorang teman karib semasa Mamet kuliah di bidang kuliner dahulu. Milly yang merasa terjepit di antara suami dan ayah sendiri kemudian memohon izin Mamet untuk menggantikan posisi yang ditinggalkan Mamet di perusahaan sang ayah, sekaligus ingin kembali berkarir seperti semula. Dalam perjalanannya, Milly mulai cemburu karena Mamet lebih intens mengurusi restoran bersama Alexandra, sementara Mamet juga terus khawatir takut anak mereka tidak dapat terurus dengan baik karena Milly jadi lebih sibuk bekerja. Pertengkaran mulai terjadi di antara keduanya.

Dengan alur maju selama 110 menit, “Milly & Mamet” mudah “dicerna” oleh penonton. Isu yang diangkat sangat erat dengan kehidupan masyarakat Indonesia masa kini. Walau dapat dikategorikan sebagai drama komedi romantis, film ini tidaklah cengeng. Disajikan dengan gaya khas standup comedy, penonton sepertinya dituntut untuk berwawasan luas agar dapat menikmati seluruh candaan yang hadir dalam film ini dengan sempurna. Misalnya:
– Dalam satu adegan yang menampilkan seorang cameo, kalau penonton tidak mengetahui latar belakang asli sang cameo tersebut bisa jadi tidak menangkap kelucuan dialog selanjutnya dengan sempurna.
– Dengan latar belakang tempat Kota Jakarta, beberapa kali ditemui penggunaan istilah dari Bahasa Betawi. Bagi penonton yang tidak familiar bisa jadi terlambat untuk mengerti, sehingga lagi-lagi akan kehilangan spontanitas humor yang dihadirkan.
– Meskipun tanpa perlu menyaksikan AADC 1 maupun AADC 2 film ini tetap dapat dinikmati, alangkah disayangkan kalau kita tidak menonton kedua film tersebut. Banyak anekdot dalam film “Milly & Mamet” diambil dari dialog-dialog di AADC 1 dan 2.

Seluruh unsur komedi dalam “Milly & Mamet” sangat bisa dinikmati dengan detil, mulai dari dialog, mimik dan bahasa tubuh pemain, bahkan sampai ke properti pendukung. Pokoknya siapkan mata jeli Anda untuk menikmati setiap kelucuan yang ada di film ini! Dalam satu adegan (saya nemunya satu, nggak tahu kalau lebih) tampak pengambilan gambar yang goyang; kamera seperti naik turun. Semoga tidak terlalu mengganggu, tapi bagi saya pribadi hal ini cukup mendistraksi. Celetukan yang hadir tidak berbau seksis yang vulgar, seperti banyak materi komedi lain yang menggunakan materi-materi yang seksis (bahkan hal ini terjadi juga dalam 3 film besutan Ernest Prakarsa sebelumnya!) Walaupun begitu, saya juga tidak cepat-cepat menyatakan film ini dapat dinikmati seluruh anggota keluarga. Singkat kata, batasan umur bagi penikmat film ini jika diletakkan di kategori 13+ sudah cukup pas.

Film “Milly & Mamet” membawa penonton untuk tidak melulu berkutat dengan stereotipe Si Lemot dan Si Culun yang terlanjur melekat sejak AADC 1 rilis. Memang, dalam film ini karakter tersebut masih terasa kuat, tetapi saya melihat karakter positif lainnya juga ditonjolkan. Karakter itu tampak Pada Milly yang bisa berpikir matang dalam mencari solusi atas permasalahan yang dihadapi, pada Mamet yang tidak se-flat yang dipikirkan orang jika melihat kepolosannya, ditonjolkan dalam kegigihan, ketegasan, dan kejujurannya menjalani hidup.

Refleksi
Apakah kita bisa berefleksi dari film ini? Kita bisa belajar dari pertengkaran antara Milly dan Mamet dengan komunikasi yang tidak asertif karena keduanya tidak dapat mengendalikan rasa marah atau cemburu. Perasaan-perasaan tersebut lahir karena adanya ketakutan dan rasa terancam. Kita juga sering begini gak sih? Aku sih iya :”)

Adegan favorit saya adalah ketika Mamet, dalam rasa marah dan kecewanya, ia mengambil jeda untuk kembali merunut kejadian-kejadian yang telah terjadi. Dalam keheningan sambil menyetir mobil, perlahan ia mulai menyesali ketika harus membentak istrinya. Ia kembali mencoba mendengarkan hati nuraninya kemudian menentukan tekad untuk berbuat sesuatu, sesimpel ingin segera menelepon dan meminta maaf pada Milly.

Ya gitu deh, pokoknya Mamet telah cukup berusaha untuk sadar. Saya jadi teringat akan satu momen pengakuan dosa yang pernah saya lakukan tahun lalu, saat memohon penitensi dan absolusi dari Pater yang memberikan sakramen kala itu. Ada ujaran beliau yang sangat membekas bagi saya:

“Kita sungguh patut bersyukur atas rahmat kesadaran yang diberikan Allah sendiri hingga menghantarmu kemari hingga dapat mengungkapkan kekeliruan dengan jujur dan berani, serta kita harus percaya bahwa rahmatNya pula yang akan menggerakkan kita untuk semakin layak menerima pengampunan Allah sendiri.”

Betapa mahalnya rahmat kesadaran itu dan betapa aku ingin selalu mendapatkannya! Ya balik lagi ke kuncinya gak sih? Examen dan journaling 🙂 Dengan kedua cara itu, kita melihat pengalamn dengan penuh kesadaran, tidak hanya asal lewat. Sebuah keputusan tepat untuk menonton film ini di awal tahun yang baru. Suasana humornya yang segar rupanya telah mendatangkan angin untuk kembali menyalakan bara di diriku yang mulai redup-redup untuk terus bergiat dalam Latihan Rohani di tahun 2019 ini. Yuk mari!



Maria Stefania Kusumastuti

Bekerja sebagai fisioterapis. Mulai bergabung dengan MaGis Jakarta pada tahun formasi 2016. Memiliki banyak hobi dan minat yang dipelajari secara otodidak, seorang penikmat pelbagai macam seni.

 


Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *