[Resensi Film] Sebuah Sajak Perayaan Kehidupan : Bohemian Rhapsody


“Is this the real life, is this just fantasy?” – Queen (Bohemian Rhapsody – A Night at the Opera, 1975)

Sebuah pertanyaan yang secara sadar maupun tak sadar sering kita lontarkan, setidaknya dalam hati masing-masing. Apakah iya hidup ini cukup riil sebagai kenyataan yang dihidupi?  Sebuah kalimat yang sederhana dalam lirik lagu Bohemian Rhapsody, namun mampu menggema di seluruh penjuru dunia berpuluh tahun lamanya, bahkan hingga saat ini. Ketika melodi awal dimainkan, semua orang pasti mengenal lagu ini. Bohemian Rhapsody, adalah sebuah lagu yang disepakati sebagai single di album A Night of the Opera tahun 1975. Lagu dengan syair yang penuh spekulasi, membuat pendengar menebak-nebak apa isinya: Apa maksud mereka menulis kata-kata ini? Mengapa ada kata Bismillah di dalamnya? Mengapa memasukkan Beelzebub dan juga memberi karakter opera di dalamnya?

Film yang sudah dinanti para penggemar Queen selama 10 tahun ini akhirnya dirilis menjelang ujung 2018 dengan pemilihan aktor yang mencengangkan. Brian May dan Roger Taylor beserta orang-orang terdekat band tersebut memulai proses penggarapannya di awal tahun 2018. Ketika saya melihat trailernya, lalu menonton filmnya, saya seolah sedang menyaksikan Queen manggung.

Film ini bercerita tentang sebuah band di tahun 1970 yang dimulai oleh Brian May (diperankan oleh Gwylim Lee) & Roger Taylor (diperankan oleh Ben Hardy) bernama Smile. Smile bermusik dari kampus ke kampus. Beruntung, setelah vokalisnya berhenti, band ini dipertemukan nasib oleh Farrokh Bulsara (kemudian Freddie Mercury, diperankan oleh Rami Malek) dan John Deacon sebagai bassist (diperankan oleh Joe Mazzello).  Kemudian nama band tersebut berubah menjadi Queen; seperti ratu yang memukau dan menggetarkan dunia.

Menarik, melihat keempatnya membawakan karakter masing-masing personil yang sama kuat dan tak cocok satu sama lain, namun sebenarnya saling membutuhkan. Dalam film ini terlihat bagaimana proses  pergulatan, tantangan, eksperimen, integritas dan kesederhanaan mereka menggubah lagu. Film ini memperlihatkan latar belakang penciptaan karya yang menjadi kesayangan dunia sepanjang masa. Unik, ketidakcocokan justru memberi campuran warna baru bagi industri musik saat itu.

Hampir semua pendengar dan penikmat musik hanya mengetahui hasilnya: Bagaimana komposisinya bisa sekompleks itu, mengapa liriknya bisa tetap sederhana, dan mengapa musiknya selalu berbeda di setiap lagu, dll. Film ini menjelaskan jawaban-jawaban pertanyaan tersebut dan membuat saya berdecak kagum. Meski latar cerita film ini berada di dalam 1970-1980an, humornya terasa ringan dan masih bisa diterima oleh penonton saat ini. Bumbu humor ringan pada kisah serius, memberikan keseimbangan yang pas.

Tak hanya tentang karya Queen, kisah cinta dan orientasi seksual pun menjadi fokus yang cukup penting dalam film ini. Freddie Mercury akhirnya mengenal dan berani mengakui jati dirinya sendiri melalui tunangannya, Mary Austin (diperkankan oleh Lucy Boynton). Secara ironis dan indah, Freddie dan Mary tetap berteman di dalam berbagai keadaan. Pergulatan orientasi seksual yang Freddie alami dikisahkan secara seimbang; ada sisi menyenangkan, namun ada pula sisi yang suram. Bahkan penyakit yang kemudian diidap juga diasumsikan berasal dari pergulatan itu. Meski masing-masing akhirnya mempunyai pilihannya sendiri, Freddie dan Mary tetap ada untuk satu sama lain. Freddie Mercury semakin terbuka dengan orientasi seksualnya sejak berpisah dari Mary Austin. Rami Malek dengan piawai mampu memperlihatkan sosok Freddie yang santai, flamboyan, super diva, namun di saat yang sama tetap maskulin dan terlihat gagah.

Photo Credit: Courtesy Twentieth Century Fox.

Salah satu adegan yang membuat saya mengharu biru adalah ketika konser Live Aid, 13 Juli 1985. Queen sempat ragu untuk ambil bagian. Namun Freddie mengatakan bahwa: ”Ketika kita bangun dari tidur keesokan hari setelah konser, kita akan menyesal sampai mati kalau kita tidak ikut terlibat di dalamnya.” Mereka tetap naik panggung, setelah mengetahui bahwa Sang Vokalis mengidap penyakit yang saat itu tak ada obatnya. Lampu sorot ada pada mereka berempat, dan paling terang menyoroti Freddie. Nyatanya suara dan kharismanya tidak surut dan malah menggerakan ratusan ribu orang di Stadion Wembley saat itu. Haru saya rasa, belum tentu ketika saya mengalami hal seburuk itu, punya keberanian untuk tetap tampil dan memberi inspirasi, bahkan kekuatan bagi orang  sebanyak itu. Seketika saya merasa buruk dan malu, karena seringkali sebagai manusia saya kurang bersyukur. Melihat adegan itu, menampar diri saya, bahwa semua harus dihidupi sebagaimana mestinya. “Carpe diem, seize the day, live your life.”

Queen sangat berpengaruh dalam hidup saya. Queen menemani saya menjalani hidup sejak 20 tahun yang lalu. Ketika kecil, Ayah saya suka memutar lagu lama dengan VCD player, dan hanya CD musik itu yang datang sebagai bonusnya. Tak disangka, setiap lagunya mempunyai makna dalam hidup saya. Dulu, saya hanya bisa menikmati kehadiran mereka melalui video klip yang ada. Saya pelajari liriknya, melodinya dan kesannya. Semuanya mendalam, tanpa terkecuali. Sebelum film ini hadir, saya hanya bisa mengulang-ulang VCD yang saya miliki. Saya menabung untuk membeli kaset dan CD. Di masa sekarang,  YouTube memberi saya peluang untuk mengeksplorasi lagu dan kisah-kisah tersembunyi yang belum saya ketahui tentang Queen. Saya mempelajari lagu-lagunya untuk dimainkan sebagai tanda penghormatan.

Dalam salah satu adegan di film, ketika Queen bertemu dengan Ray Foster, Produser terkenal dari label rekaman EMI. Ray Foster menganggap durasi Bohemian Rhapsody sebagai single yang diajukan terlalu lama, bertele-tele dan liriknya tidak jelas. Lagunya tidak ada pola yang jelas dan tak dibuat dengan formula.  Lalu Queen mengatakan:

“Formula itu membosankan. Queen itu unik, maka beragam, tidak bisa didefinisikan sebagai satu genre saja.”

Pola membuat hidup menjadi tidak menarik dan menjadi sesuatu yang sangat dihindari. Saya mengamini itu. Namun uniknya kini saya juga sadar, sering terjebak dalam formula kehidupan yang membuat saya nyaman di dalamnya. Film ini membuat saya kembali menyadari, bahwa saya harus menjadi air mengalir, mengikuti bagaimana bejana membentuk saya. Jangan biarkan orang lain mengatur harus apa, biar diri sendiri yang memutuskan arahnya.

Saya menyukai musik sejak kecil, musik adalah cinta pertama saya. Musik membuat saya bisa menyalurkan semua hal yang saya lihat, dengar, dan rasakan di dalamnya. Menyanyi menjadi pelarian saya dari kepenatan dan memberi kepuasan tersendiri. Queen menolong hidup saya, mengisi hati saya dan memberi kesan mendalam hingga kini. Sayangnya lagu favorit saya tidak dimainkan di dalam film ini.

Ketika pengumuman syuting film ini dirilis, saya histeris, terlalu bersemangat dan segera membagikan pada orang sekitar saya. Kebanyakan berkomentar : ”Oh.” Sudah begitu saja. Saya sudah tiga kali menontonnya dan tak pernah bosan. Selalu ada air mata haru saat menonton, karena film ini mengungkapkan kisah mereka secara jujur dan otentik. Film ini memperlihatkan kesulitan dan kegalauan seseorang dalam memilih jalan hidup, dan juga memberi wawasan bahwa sebagai manusia, kita tidak pernah sendiri. Penyakit yang Freddie miliki, tidak membuatnya berhenti berkarya. Di film dikisahkan bahwa tak ada gunanya menangisi dan larut dalam kesedihan. Lebih baik terus saja bermusik, berkarya dengan sentuhan surga.

Entah jawaban atau pertanyaan apa yang muncul dari film ini, teman-teman bisa menikmatinya sendiri. Selamat (mencoba) menonton! ☺


Atha Hanindito

Atha, seorang perempuan yang aktif bekerja dan bermusik dan bernyanyi. Senang dipanggil murahan jika ada kesempatan melayani. Magis formasi 2008.
“I’ll face it with a grin, I’ll never givin’ in with the show.” – The Show Must Go On (by Queen)


Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *